Dewi Lestari Simangunsong, atau yang lebih dikenal sebagai Dee Lestari, lahir pada 20 Januari 1976 di Bandung. Sebelum dikenal sebagai penulis, ia lebih dulu populer sebagai penyanyi dan anggota grup vokal Rida Sita Dewi. Namun, rupanya musik saja belum cukup untuk menampung seluruh ide liarnya. Ia butuh media lain: tulisan.
Pada tahun 2001, ia menerbitkan Supernova: Kesatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Novel ini langsung mengguncang dunia sastra Indonesia dengan konsepnya yang unik—menggabungkan sains, filsafat, spiritualitas, dan fiksi populer dalam satu cerita. Buku ini menjadi awal dari serial Supernova, yang berkembang menjadi enam novel. Selain itu, ia juga menulis kumpulan prosa dan refleksi seperti Filosofi Kopi, novel roman Perahu Kertas, serta buku anak Rapijali. Dee membuktikan bahwa menulis bisa lintas genre, selama dikerjakan dengan hati dan riset yang kuat.
Beberapa kutipan terbaik dari Dee Lestari:
“Kita tidak akan bisa menukar masa lalu dengan apa pun, tapi kita bisa menukar masa depan dengan apa saja.”
(Supernova: Akar, 2002)
“Cinta itu kayak kopi. Pahit, manis, tapi bikin nagih.”
(Filosofi Kopi, 2006)
“Kita tidak bisa memilih dilahirkan sebagai siapa, tapi kita bisa memilih menjadi siapa.”
(Perahu Kertas, 2008)
Dari Dee Lestari, kita belajar bahwa menulis bisa menjadi jembatan antara berbagai dunia—musik, sains, spiritualitas, bahkan kopi. Ia menunjukkan bahwa tidak ada batasan dalam berkarya, selama kita mau terus belajar dan mencoba. Jadi, jika merasa ide di kepala terlalu liar, jangan ditahan. Tulis saja. Siapa tahu, ide itu akan mengalir seperti sungai, membawa kita ke tempat yang tak pernah kita duga sebelumnya.


