Eka Kurniawan lahir pada 28 November 1975 di Tasikmalaya. Ia sering disebut sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer, tetapi dengan sentuhan yang lebih liar dan absurd. Eka adalah penulis yang tidak takut bermain-main dengan realisme magis, kekerasan, seksualitas, dan humor gelap dalam karyanya. Jika sastra sering dianggap serius dan berat, Eka membuktikan bahwa sastra juga bisa nakal dan menyenangkan tanpa kehilangan makna.
Novel Cantik Itu Luka (2002) langsung mencuri perhatian dunia sastra. Mengisahkan seorang pelacur yang bangkit dari kubur, novel ini memadukan sejarah Indonesia dengan unsur mitologi dan surealisme. Lelaki Harimau (2004) membawanya ke nominasi Man Booker Prize, menjadikannya salah satu penulis Indonesia yang diakui secara internasional. Ia juga menulis Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), yang kemudian diadaptasi menjadi film. Karyanya menunjukkan bahwa sastra bisa menggali sejarah, mitologi, dan realitas sosial dengan cara yang segar dan menggigit.
Beberapa kutipan terbaik dari Eka Kurniawan:
“Mati memang nasib, tapi mencintai adalah takdir.”
(Cantik Itu Luka, 2002)
“Tak ada yang lebih tabah dari lelaki yang jatuh cinta.”
(Lelaki Harimau, 2004)
“Orang-orang terlalu sibuk dengan dendam dan kekuasaan, lupa bahwa hidup ini penuh hal-hal yang lebih penting.”
(Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, 2014)
Dari Eka Kurniawan, kita belajar bahwa menulis tidak harus kaku dan serius. Imajinasi adalah kekuatan, dan tulisan yang berani keluar dari jalur biasa justru bisa meninggalkan jejak yang lebih dalam. Jadi, jika punya ide nyeleneh, jangan ragu. Tulis saja. Karena mungkin, dari sana lahir cerita yang tak hanya menghibur, tapi juga membuat orang berpikir lebih dalam tentang dunia.


