Goenawan Mohamad

Kata-Kata yang Tenang, Tajam, dan Menggugah

Goenawan Mohamad lahir pada 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mendorongnya untuk berpikir kritis dan mencintai sastra. Sejak muda, ia sudah aktif menulis, dan pada tahun 1971, ia mendirikan Tempo, majalah berita yang dikenal dengan jurnalisme sastrawi dan keberanian mengkritik kekuasaan. Tentu saja, hal ini membuat Tempo berkali-kali dibredel pemerintah. Namun, seperti layangan yang semakin tinggi saat angin bertiup kencang, Goenawan justru semakin produktif menulis.

Karyanya yang paling dikenal adalah Catatan Pinggir, kolom pendek di Tempo yang berisi refleksi tajam tentang politik, budaya, sastra, hingga filsafat. Ia juga menulis kumpulan puisi seperti Parikesit dan Don Quixote. Gaya bahasanya khas—puitis, tetapi tajam; tenang, tetapi menggugah. Ia tidak berteriak, tetapi kata-katanya menampar dengan elegan.

Beberapa kutipan terbaik dari Goenawan Mohamad:

“Sejarah adalah kebohongan yang disepakati.”

(Catatan Pinggir, 1983)

“Kebebasan itu seperti udara. Kita baru menyadari pentingnya ketika kita mulai kehabisan napas.”

(Tempo, 1995)

“Orang yang tak pernah membaca, hidupnya hanya satu. Orang yang membaca, hidupnya ribuan kali.”

(Catatan Pinggir, 2001)

Dari Goenawan Mohamad, kita belajar bahwa menulis bukan hanya soal berbicara keras, tetapi juga tentang bagaimana menyampaikan gagasan dengan cerdas. Kata-kata yang tenang bisa lebih berbahaya bagi penguasa daripada teriakan lantang. Jadi, jika ingin menulis, belajarlah untuk mengasah ketajaman berpikir. Karena tulisan yang baik bukan hanya yang indah, tetapi juga yang membuat orang berpikir ulang tentang dunia.

Karya

Goenawan Mohamad