Sapardi Djoko Damono lahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta. Sejak kecil, ia sudah jatuh cinta pada kata-kata. Namun, berbeda dengan penyair yang berapi-api seperti WS Rendra, Sapardi memilih jalur yang lebih tenang. Puisinya sederhana, kalimatnya pendek, tetapi efeknya menghunjam ke dalam perasaan. Ia adalah maestro puisi liris yang membuat hal-hal kecil seperti hujan, senja, atau sepasang sandal jepit terasa begitu puitis.
Karyanya yang paling terkenal, Hujan Bulan Juni, telah menjadi ikon puisi Indonesia modern. Puisinya sering kali bertema cinta, kehidupan, dan kefanaan, tetapi tanpa berlebihan. Selain menulis puisi, ia juga seorang akademisi dan penerjemah, menunjukkan bahwa mencintai sastra tidak harus melulu soal romantisme, tapi juga soal ilmu dan kerja keras.
Beberapa kutipan terbaik dari Sapardi Djoko Damono:
“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”
(Hujan Bulan Juni, 1994)
“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.”
(Hujan Bulan Juni, 1994)
“Kita hanya mungkin berpikir tentang yang telah tiada, sebab yang ada terlalu dekat untuk direnungkan.”
(Melipat Jarak, 2015)
Dari Sapardi, kita belajar bahwa menulis tidak harus bertele-tele untuk bisa menyentuh hati pembaca. Kadang, justru kalimat yang paling sederhana adalah yang paling dalam maknanya. Jadi, jika merasa tulisan kita terlalu singkat atau terlalu biasa, jangan ragu. Tulis saja. Karena seperti hujan bulan Juni, kata-kata yang tulus akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke hati orang lain.


