
Bagaiamana rasanya ketika kematian berada tepat di depan mata? Alih-alih merasa takut, perempuan ini menyambut dengan rasa bangga dan penuh kemenangan.
Kematian dianggapnya sebagai pintu gerbang kebebasan dari lorong waktu yang sesak dan menakutkan. Sebab, sepanjang hidupnya, tak sedikitpun ia merasa bahagia seakan dunia begitu kejam menghajarnya tanpa belas kasih.
Kisah Firdaus adalah bentuk representasi semua perempuan yang mengalami banyak diskriminasi dan perlakuan tidak adil, baik dari keluarga, masyarakat maupun negara, hanya karena ingin berbicara kebenaran.
Bagaimana bisa seorang perempuan selalu menjadi serba salah ketika dihadapkan pada porsoalan dogmatis dan realistis. Seakan ia dihakimi oleh dua sistem sekaligus tanpa sempat menentukan pilihannya sendiri.
Perempuan di Titik Nol menunjukkan kebobrokan sistem masyarakat sosial terhadap negara patriarkal yang membungkus kekerasan dengan moral, agama yang dipelintir, hukum dan keluarga. Novel ini menceritakan tokoh Firdaus, seorang pekerja seks, yang sedang menanti hukuman mati di penjara Qanatir, Mesir.
Firdaus dipenjara karena membunuh seorang germo—sebuah tindakan yang dianggap kejahatan besar oleh hukum, tetapi baginya merupakan puncak dari kebebasan hidupnya. Sebuah memoar terkelam yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan seorang perempuan.
Melalui pengakuannya yang jujur, Firdaus mengajak pembaca menelusuri perjalanan hidupnya: masa kecil yang pahit, pelecehan seksual, pernikahan yang menindas, dieksploitasi laki-laki dalam semua peran (ayah, oaman, suami, bos, pelanggan) hingga kisahnya dalam dunia prostitusi.
Setiap perjalanan hidup Firdaus memperlihatkan bagaimana tubuh, pikiran, dan hidupnya terus-menerus dikontrol oleh laki-laki dan sistem sosial yang tidak adil. Bahkan dalam pilihan hidupnya sendiri pun sering bukan benar-benar sebuah pilihan.
Firdaus adalah simbol kebebasan tragis yang membongkar bahwa kehancuran hidupnya bukanlah semata-mata sebab takdir, tetapi hasil dari kejahatan struktural. Ia tidak jatuh karena salah memilih hidup, tetapi didorong oleh rasa putus asa ke dalam lembah yang paling dalam.
Ironisnya, Firdaus justru merasa paling bebas ketika mencapai puncak kesuksesan sebagai pelacur independen papan atas. Sebab, saat itulah pertamakalinya ia memperoleh hak otoritas atas tubuhnya sendiri.
Sosok Firdaus bukan digambarkan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai perempuan yang sadar akan ketidakadilan yang menimpanya. Keberaniannya untuk tidak tunduk, bahkan pada negara dan hukum dengan melewatkan pengajuan grasi ketika akan dijatuhi hukuman mati, merupakan bukti bahwa perempuan berhak marah, sadar, dan menolak, sebagai bentuk tindakan revolusioner mutlak atas dirinya.
Nawal El-Saadawi menulis novel ini dengan gaya yang keras dan menghantam, seolah ingin memaksa pembaca melihat kenyataan tanpa romantisasi. Jujur, nyata, dan tak munafik. Sebuah karya sastra pun bisa menjadi perenungan: apakah tercipta sebagai perempuan adalah kesalahan?
Nawal seakan memberikan tamparan keras bahwa bukan perempuannya yang rusak, tetapi moral yang dirusak akibat dari kebiadaban sistemnya. Menurutnya, tidak ada posisi yang benar-benar aman bagi perempuan yang berada dalam masyarakat partiarkal.
Penulis: Indi Mahwaniya


