Ketika Cerita Kehilangan Mulutnya

0
155

Resensi atas “Sang Pencerita: Renungan terhadap Karya Nikolai Leskov” karya Walter Benjamin.

Ada sesuatu yang pelan-pelan lenyap dari kita, tetapi kehilangannya jarang diumumkan secara resmi. Tidak ada upacara, tidak ada berita duka. Kita hanya merasakannya sebagai kekosongan samar: cerita-cerita tak lagi tinggal di tubuh manusia. Mereka berpindah ke halaman cetak, ke laporan berita, ke arsip, ke algoritma—tetapi kehilangan napasnya. Dalam esai “Sang Pencerita: Renungan terhadap Karya Nikolai Leskov”, Benjamin menamai kehilangan itu dengan ketelitian seorang arkeolog kebudayaan: lenyapnya seni bercerita.

Esai ini bukanlah sebagai nostalgia sentimental. Ia tidak sekadar merindukan masa lalu yang “lebih hangat” atau “lebih manusiawi”. Sebaliknya, ia membedah sejarah dengan pisau yang dingin, tetapi sangat puitis: mengapa manusia modern masih dikelilingi oleh cerita, tetapi semakin jarang mengalami penceritaan? Mengapa kita tahu begitu banyak hal, tetapi nyaris tak memiliki hikmah?

Bahwa jika kita gemar memeriksa luka-luka kecil peradaban pengalaman sehari-hari—esai Benjamin ini terasa seperti suara tua yang berbisik di tengah kebisingan dunia: bukan untuk memerintah, melainkan untuk mengingatkan.

Sang Pencerita dan Dunia yang Pernah Punya Waktu

Bagi Benjamin, pencerita bukan sekadar orang yang menyampaikan kisah. Ia adalah figur sosial yang lahir dari pengalaman yang dipelajari perlahan, dibawa menyeberangi jarak dan waktu, lalu dibagikan tanpa tergesa. Pencerita hidup dalam dunia yang belum dikuasai oleh kecepatan dunia.

Dalam esai ini, Benjamin menggunakan Nikolai Leskov sebagai contoh pencerita sejati. Leskov bukan novelis besar dalam kanon Barat; ia bukan Tolstoy atau Dostoyevsky. Justru di situlah signifikansinya. Leskov menulis seperti seseorang yang duduk di dekat api unggun, bukan di balik meja kerja yang terisolasi. Cerita-ceritanya berakar pada tradisi lisan, pengalaman perjalanan, dan kebijaksanaan rakyat.

Benjamin membedakan pencerita dari penulis modern. Pencerita tidak menjelaskan segalanya. Ia tidak menutup cerita dengan kesimpulan moral yang eksplisit. Ia menyisakan ruang—ruang untuk diingat, diulang, diubah, dan diwariskan. Cerita baginya bukan produk jadi, melainkan benih.

Dalam dunia yang dipenuhi oleh jam kerja, tenggat waktu, dan informasi instan, benih semacam itu sulit tumbuh. Kita menginginkan hasil cepat, bukan proses panjang. Kita ingin informasi, bukan pengalaman.

Informasi: Musuh Diam-Diam Cerita

Salah satu tesis paling tajam dalam esai ini adalah perbedaan antara cerita dan informasi. Informasi, kata Benjamin, menuntut kebaruan dan verifikasi. Ia harus “terkini”, harus dapat dicek kebenarannya dan akan segera usang begitu digantikan oleh kabar berikutnya.

Cerita bekerja sebaliknya. Ia tidak tergesa-gesa menjadi benar atau salah. Ia bertahan justru karena bisa diingat, diceritakan ulang, dan disesuaikan dengan konteks pendengar.

Pada titik ini, Benjamin seperti sedang berbicara langsung kepada zaman kita—zaman notifikasi, breaking news, dan linimasa tanpa akhir. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi jarang memiliki waktu untuk mencerna pengalaman. Setiap peristiwa segera berubah menjadi data, statistik, atau tajuk utama. Tidak ada jeda untuk hikmah.

Hematnya, kita bisa mengatakan: dunia modern bukan kekurangan cerita, melainkan kekurangan keheningan yang dibutuhkan agar cerita bisa berdiam di dalam diri.

Pengalaman yang Tak Lagi Pulang

Benjamin menulis bahwa pengalaman (erfahrung)—pengalaman yang dalam, kolektif, dan bermakna—telah digantikan oleh pengalaman sesaat (erlebnis). Yang pertama tumbuh perlahan dan diwariskan; yang kedua dikonsumsi cepat dan dilupakan.

Perang Dunia I menjadi contoh penting bagi Benjamin. Para tentara pulang dari medan perang bukan sebagai pencerita, melainkan sebagai manusia yang dibungkam oleh trauma. Mereka membawa pengalaman yang terlalu mengerikan untuk dirangkai menjadi cerita. Dunia modern, dengan teknologinya, telah menciptakan pengalaman yang tak bisa diceritakan.

Di sini, esai Benjamin bersinggungan dengan kegelisahan kontemporer: pengalaman-pengalaman besar—bencana, pandemi, krisis ekologis—sering kali hanya hadir sebagai grafik dan laporan. Kita tahu angkanya, tetapi tidak selalu merasakan kedalaman maknanya. Bahwa tragedi modern seringkali kehilangan tubuh manusianya. Ia menjadi peristiwa tanpa wajah.

Kematian dan Hikmah yang Hilang

Salah satu bagian paling sunyi dan indah dalam esai ini adalah refleksi Benjamin tentang kematian. Pencerita tradisional, katanya, sering memperoleh otoritas justru dari kedekatannya dengan kematian. Di ambang akhir hidup, seseorang memiliki cerita yang utuh—pengalaman yang bisa ditutup dan dibagikan.

Namun, masyarakat modern menyembunyikan kematian. Ia dipindahkan ke rumah sakit, ke statistik, ke berita singkat. Akibatnya, hikmah yang lahir dari kesadaran akan kefanaan ikut menghilang.

Benjamin tidak sedang meromantisasi kematian. Ia menunjukkan bahwa ketika kematian dikeluarkan dari kehidupan sehari-hari, manusia kehilangan salah satu sumber kebijaksanaan terdalamnya. Cerita menjadi dangkal karena tidak lagi bersentuhan dengan batas.

Membaca Benjamin Hari Ini

Membaca “Sang Pencerita” hari ini terasa seperti membaca surat yang terlambat tiba, tetapi justru karena itu menjadi mendesak. Di tengah siniar, vlog, utas media sosial, dan konten cepat saji, kita mungkin merasa seni bercerita sedang hidup subur. Namun, Benjamin mengingatkan: kuantitas cerita tidak menjamin kualitas pengalaman.

Pertanyaannya bukan lagi “apakah kita masih bercerita?” melainkan “apakah cerita masih mengubah cara kita hidup?”

Esai ini mengajak kita untuk berhenti sejenak—mendengarkan cerita-cerita kecil yang tidak viral, tidak spektakuler, tetapi bertahan. Cerita tentang orang tua di sekeliling kita, tentang perjalanan yang tidak efisien, tentang kegagalan kita.

Benjamin tidak menawarkan solusi praktis. Ia tidak memberi panduan “cara menghidupkan kembali seni bercerita”. Ia hanya melakukan satu hal yang sangat politis dalam kesunyiannya: menunjukkan apa yang telah hilang, dan dengan itu, membuka kemungkinan untuk merindukannya kembali.

Penutup: Merawat Cerita, Merawat Kemanusiaan

“Sang Pencerita” bukan sekadar esai sastra. Ia adalah kritik kebudayaan, renungan sejarah, dan elegi untuk sesuatu yang rapuh. Dalam gaya yang pelan namun tajam, Benjamin mengajak kita menyadari bahwa hilangnya seni bercerita adalah tanda dari krisis yang lebih dalam: krisis pengalaman manusia itu sendiri.

Mungkin tugas kita hari ini bukan menciptakan cerita baru yang lebih keras, lebih cepat, atau lebih sensasional. Tugas kita justru lebih sederhana dan lebih sulit: menyediakan waktu, tubuh, dan kesediaan untuk mendengarkan.

Karena di situlah cerita menemukan kembali mulutnya. Dan bersama cerita, mungkin, kemanusiaan kita yang tercecer bisa perlahan pulang.

Penulis: Ricky Alfandi