Secuil Refleksi Tetirah: Ketika Berhenti Sejenak Malah Bikin Ingat Perjalanan

0
258
Ilustrasi oleh Habba

Jujur, ya, awalnya saya mengira tetirah itu istilah berat. Kedengarannya seperti kata yang biasa muncul pada pamflet kegiatan, tapi jarang dipakai di kehidupan sehari-hari. Baru belakangan ini saya akrab dengan kata itu, tepatnya sejak kemarin saat ikut kegiatan Mahanani. Kalau menurut penjelasan Pak Narno, tetirah itu artinya sederhana: berhenti sejenak, mengambil napas, menahan sebentar, dan biar tidak memikirkan negara terus.

Tapi di kepala saya yang masih penuh pola pikir anak muda, tetirah itu langsung saya terjemahkan bebas: liburan tipis-tipis. Liburan tanpa harus diskusi panjang, tanpa harus memperbarui status media sosial “healing dulu”, dan intinya tetirah itu liburan yang berkelas pakai “s”.

Namun, saya sadar tetirah itu bukan sekadar istirahat atau kabur dari rutinitas. Tetirah justru kayak tombol pause di tengah hidup yang sering keburu-buru. Kita berhenti bukan karena lelah doang, tapi karena perlu berpikir: “Sebenarnya aku lagi ngapain sekarang?”

Dari semua rangkaian tetirah kemarin, ada satu sesi yang menurut saya paling berkesan di kepala. Yaitu saat sesi bareng Mas Aris, ketika beberapa anggota Mahananian ditunjuk buat cerita soal proses awal bergabung di Mahanani. Awalnya saya kira sesi ini bakal standar: cerita datang, ikut kegiatan, selesai. Tapi ternyata justru di situ saya mulai refleksi, bahkan sedikit nostalgia.

Saya sendiri belum sampai setahun aktif di Mahanani. Bisa dibilang masih anak baru, masih belajar, masih sering bengong kalau diskusi sudah masuk level berat. Tapi anehnya, dalam waktu yang belum lama itu, saya sudah dapat banyak hal yang tidak saya temukan di tempat lain. Semua ini sebenarnya berawal dari satu hal sederhana yakni punya teman kutu buku.

Teman saya itu sering memberi tahu tentang kegiatan Mahanani. Awalnya saya cuma membalas, “Oh, iya terimakasih infonya.” Lama-lama, “Gas, berangkat!” Sampai akhirnya saya datang dan keterusan sampai sekarang. 

Pengalaman pertama yang bikin keringat dingin

Semua bermula seusai acara Perjamuan Sindhunatan. Malam itu, suasana sebenarnya santai seperti biasa, sampai tiba-tiba Pak Narno melempar pertanyaan ringan, Akhir-akhir ini baca buku apa, Gus?” Saya menjawab jujur, tanpa curiga apa pun, mengira itu hanya obrolan pengantar pulang.

Namun, dugaan saya keliru. Tanpa aba-aba, pertanyaan santai itu langsung berubah menjadi semacam jebakan halus. Pak Narno tiba-tiba menantang saya untuk menjadi pembedah buku di acara berikutnya. Detik itu juga kepala saya penuh sesak. Perasaan kaget, panik, dan tidak percaya diri datang bersamaan. Dalam hati, saya sibuk mencari berbagai alasan untuk menolak, karena merasa posisi saya masih terlalu baru dan jelas belum pantas disebut narasumber, apalagi pembedah buku.

Kejutan itu akhirnya benar-benar menjadi nyata pada Jumat malam, 11 Juli 2025. Malam itulah saya tampil sebagai narasumber bedah buku novel Kabar Buruk Dari Langit dalam sebuah acara bernama Berani Goblok. Bahkan dari namanya saja, acara ini sudah cukup membuat mental saya goyah sejak awal. 

Saat itu juga perasaan saya campur aduk, kaget, panik, dan merasa belum siap menjadi narasumber, apalagi pembedah buku, sambil dalam hati sibuk mencari-cari alasan. Padahal sebelumnya saya sempat kepikiran: “Suatu hari nanti kayaknya bakal ditunjuk.” Tapi saya pikir, itu masih lama. Apalagi saya sudah pernah jadi moderator, jadi dalam kepala saya, “Oke, tugas saya sudah selesai di situ.” Ternyata tidak seperti apa yang saya pikirkan.

Masalahnya, komunikasi itu bukan skill unggulan saya. Sampai sekarang pun, saya masih sering grogi kalau harus bicara di depan banyak orang. Tangan dingin, keringat keluar, pikiran mendadak kosong. Tapi anehnya, justru karena rasa takut itu, saya merasa harus mencoba.

Saya sadar, kalau terus menghindar, ya tidak akan ke mana-mana. Dan di titik itu, saya merasa bergabung dengan Mahanani adalah keputusan yang sangat tepat. Karena di sini, saya dipaksa tumbuh.

Hidupnya literasi yang sempat mati suri

Setelah lulus kuliah, saya sempat memasuki fase hidup yang terasa aneh meski secara status sudah dinyatakan lulus. Tapi secara mental, saya kosong. Rutinitas berubah, tujuan hidup blur dan yang paling terasa adalah minat literasi saya turun.

Dulu, baca, diskusi, menulis itu kayak kebutuhan pokok saat kuliah. Tapi sekarang, buku sering cuma jadi pajangan. Diskusi terasa melelahkan. Menulis selalu kalah sama alasan “mengko sek”.

Mahanani pelan-pelan jadi pemantik. Saya mulai baca lagi karena lingkungan yang positif. Diskusi tanpa takut salah. Tidak harus pintar, yang penting mau belajar. Dan dari situ, gairah itu balik. Tidak meledak-ledak, tapi konsisten ada.

Jejaring yang seru

Saya merasa diri saya ini ambivert. Kadang ingin ramai, kadang ingin menyepi. Dan anehnya, Mahanani cocok dengan itu. Tidak ada tuntutan harus selalu sama. Tidak ada kewajiban sama kalau memang sedang ingin berbeda.

Di sini, saya ketemu banyak orang dengan latar belakang berbeda. Setiap orang bebas jadi dirinya sendiri. Dan justru dari kebebasan itu, jejaring terbentuk dengan natural.

Selain itu, saya mengenal dan bertemu langsung para tokoh penulis ternama seperti Romo Sindhunata dan Mbak  Okky Madasari. Setiap tokoh yang datang memiliki karakter tersendiri yang tidak pernah saya temui.

Jadi, bagi saya, Mahanani bukan cuma komunitas, tapi ruang aman berproses untuk belajar jadi versi diri yang lebih berani. Dalam rentang belum sampai setahun ini menjadi Mahananian adalah perjalanan yang dilalui dengan pelan-pelan, tanpa terburu-buru, sambil ketawa-ketiwi, tapi jalan terus.

Penulis: Achmad Zazuli